Mimpi yang Terjeda: Potret Anak-Anak di Luar Bangku Sekolah karena Jerat Ekonomi.

Pendidikan sering dianggap sebagai jalan menuju yang lebih baik. Melalui pendidikan, seseorang dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta peluang yang lebih luas untuk meraih cita-cita. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan hingga jenjang yang diinginkan.

Keterbatasan ekonomi masih menjadi salah satu penyebab anak dan remaja harus meninggalkan bagku sekolah lebih awal. Keadaan tersebut mendorong sebagian dari mereka untuk bekerja di usia muda demi membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara yang lain harus mengesampingkan pendidikan karena tuntutan hidup yang mendesak.

Berdasarkan data Susenas BPS 2025, terdapat 2,9 juta anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah di Indonesia. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan biaya, yang mencapai 20,35 persen dari total alasan anak tidak bersekolah. Selain itu, 16,75 persen anak tidak bersekolah karena sudah bekerja. Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masih menjadi hambatan besar dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat berbagai kisah perjuangan yang jarang terdengar. Melalui wawancara dengan tiga narasumber dari latar belakang yang berbeda, artikel ini mencoba melihat bagaimana pendidikan dimaknai dari berbagai sudut pandang: sebagai harapan, kesempatan yang hilang, dan perjuangan untuk masa depan.

Narasumber 1: Anak Kecil Penjual Tissue
“Aku pengen sekolah biar bisa jadi Presiden.”
Di usia enam tahun, ketika sebagian besar anak seusianya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain di sekolah, ia justru harus berjualan tisu di jalanan. Setiap hari, ia menawarkan dagangannya kepada para pengendara demi membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Meski belum pernah merasakan pendidikan formal seperti anak-anak lain, hal tersebut tidak memadamkan semangat dan cita-citanya untuk menjadi orang hebat kelak nanti. Disalah satu percakapan tentang harapan di masa depan, ia berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang presiden, karena di matanya presiden itu seseorang yang harus bijak dan peduli terhadap masyarakatnya. Maka dari itu semangat belajarnya tetap membara di tengah kesibukannya mencari nafkah.

Narasumber 2: Putus Sekolah dan Menikah di Usia Muda
“Semoga anak saya bisa sekolah tinggi, ga kaya ibunya.”
Berbeda dengan narasumber sebelumnya yang belum pernah merasakan bangku sekolah, perempuan berusia 26 tahun ini pernah mengenyam pendidikan. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak dapat melanjutkan sekolah hingga jenjang yang lebih tinggi.

Seiring berjalannya waktu, ia menikah di usia muda dan kini menjalani peran sebagai seorang ibu sekaligus pencari nafkah bagi ketiga anaknya. Dalam kesehariannya, ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membuka peluang hidup yang lebih baik. Menurutnya, kesempatan yang hilang di masa lalu menjadi pelajaran berharga yang tidak ingin terulang pada anak-anaknya.

Harapan terbesar yang ia miliki saat ini bukan lagi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depan anak-anaknya. Ia berharap mereka dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin dan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Narasumber 3: Pelajar Generasi Sekarang
“Capek belajar, tapi mau gimana lagi.”
Di tengah berbagai keterbatasan yang dialami sebagian anak Indonesia untuk mengakses pendidikan, masih ada pelajar yang dapat menjalani proses belajar dengan dukungan fasilitas yang lebih memadai. Meski demikian, hal tersebut tidak berarti perjalanan pendidikan yang mereka tempuh selalu berjalan mudah.

Seorang pelajar yang saat ini masih menempuh pendidikan mengaku sering menghadapi berbagai tantangan akademik, mulai dari tugas yang menumpuk hingga tuntutan untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Baginya, sekolah merupakan bagian penting dalam mempersiapkan masa depan dan mencapai cita-cita yang diinginkan. Di era digital seperti sekarang, banyak sekali akses yang memudahkan kita untuk menggapai cita-cita, namun sayangnya tak semua orang bisa mendapatkan akses itu.

Narasumber ketiga ini pun mengaku sering menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk memudahkan kehidupan sekolahnya.
Menurutnya, meskipun pendidikan sering kali terasa melelahkan, kesempatan untuk bersekolah tetap merupakan hal yang patut disyukuri. Ia berharap seluruh anak di indonesia dapat memperoleh kesempatan belajar yang sama sehingga dapat meraih impian dan cita-cita yang diinginkan.

Kisah ketiga narasumber tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masih memiliki pengaruh besar terhadap akses pendidikan di Indonesia. Bagi sebagian anak, keterbatasan ekonomi membuat bangku sekolah terasa begitu jauh untuk dijangkau. Bagi mereka yang pernah terpaksa meninggalkan pendidikan, kesempatan yang hilang menjadi pelajaran berharga yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Sementara itu, mereka yang masih dapat mengenyam pendidikan dihadapkan pada tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.


Generasi sekarang hidup di zaman dengan akses pendidikan yang lebih mudah dibanding sebelumnya. Namun, masih banyak orang diluar sana yang bahkan belum memiliki kesempatan untuk belajar.
Oleh karena itu, upaya untuk memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang layak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat dan pemerintah. Sebab, ketika kesempatan belajar dapat dijangkau oleh semua anak tanpa terkendala kondisi ekonomi, semakin banyak mimpi yang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *